Program Studi Desain Komunikasi Visual Universitas Dian Nuswantoro (DKV Udinus) Kediri menghadirkan ruang belajar dan apresiasi seni melalui Samsara Exhibition Vol. 1. Pameran bertema “Yang Terlihat dan Terlupakan” tersebut berlangsung pada 26–28 Juni 2026 di Pasar Setono Betek, Kota Kediri.
Pemilihan pasar sebagai lokasi pameran membawa karya seni lebih dekat dengan kehidupan sehari-hari masyarakat. Selama tiga hari, pengunjung pasar dapat menyaksikan berbagai karya visual sekaligus berinteraksi dengan mahasiswa, pelajar, seniman, dan pelaku industri kreatif.
Samsara Exhibition Vol. 1 merupakan luaran dari mata kuliah Pameran yang diikuti mahasiswa DKV Udinus Kediri. Melalui kegiatan tersebut, mahasiswa tidak hanya mempelajari penataan dan penyajian karya, tetapi juga memperoleh pengalaman dalam menyusun konsep acara, melakukan kurasi, membangun jejaring, serta mengelola kegiatan seni yang melibatkan masyarakat.
Ketua Program Studi DKV Udinus Kediri, Khamadi, S.Sn., M.Ds., menjelaskan bahwa SAMSARA dirancang sebagai bentuk kontribusi mahasiswa dalam membangun ruang apresiasi dan edukasi seni. Kegiatan ini sekaligus menjadi sarana bagi mahasiswa untuk menerapkan pengetahuan yang diperoleh selama perkuliahan ke dalam kegiatan nyata.

Sebanyak 83 karya dikirimkan dalam proses seleksi terbuka. Dari jumlah tersebut, 30 karya dipilih untuk dipamerkan. Para peserta berasal dari Kediri, Malang, Surabaya, Yogyakarta, Surakarta, Jakarta, hingga Papua.
Karya yang ditampilkan menggunakan beragam medium, seperti lukisan, ilustrasi, fotografi, karya digital, dan media campuran. Keberagaman tersebut menunjukkan bahwa gagasan visual dapat disampaikan melalui berbagai pendekatan, teknik, dan latar belakang pencipta.
Pameran ini juga membuka kesempatan bagi masyarakat dari berbagai profesi untuk berpartisipasi. Salah satunya Woro Puspitaningrum, seorang advokat yang menampilkan karya ilustrasi manual berjudul “Kucing Hitam” yang dibuat pada 2023. Kehadirannya memperlihatkan bahwa kegiatan berkarya dan mengapresiasi seni tidak terbatas pada seniman profesional maupun mahasiswa seni.
Selain pameran karya, SAMSARA menghadirkan sejumlah kegiatan pendukung. Rangkaian tersebut meliputi gelar wicara bersama kurator Adji Nugroho dan seniman Yudha Afif, lokakarya fotografi, menggambar langsung, sablon langsung, serta pertunjukan musik oleh Adha Buyung.
Kegiatan tersebut turut dihadiri Kepala Bidang Kepemudaan Dinas Kebudayaan, Pariwisata, Kepemudaan, dan Olahraga Kota Kediri, Aries Ahmad Chudori, S.Sos.; Direktur Operasional Perumda Pasar Joyoboyo, Wedya Nurmasono, S.E.; komunitas seni dari Kota dan Kabupaten Kediri; serta pelajar SMA, SMK, dan MA di Kediri dan sekitarnya.

Sebagai bentuk apresiasi terhadap peserta, panitia memberikan penghargaan dalam enam kategori. Penghargaan Karya Terbaik diberikan kepada Laura Brilliantine Purida, Karya Terfavorit kepada Abraham Himawan, Karya Paling Berdampak kepada Muhammad Faisal Arif, dan Karya Paling Inovatif kepada Davril Az-zahra A.J.
Sementara itu, penghargaan Karya dengan Konsep Terestetik diberikan kepada Dyah Purnawati dan penghargaan Seniman Muda Berbakat diberikan kepada Erik Syaidikan Nafiz.
Dyah Purnawati, peserta pameran sekaligus guru Seni Budaya SMAN 4 Kota Kediri, menilai kegiatan seperti SAMSARA perlu terus dikembangkan sebagai ruang untuk menampilkan dan mengapresiasi karya.
“Penghargaan ini menjadi kebanggaan bagi saya. Kegiatan positif seperti ini penting untuk terus dilanjutkan dan dikembangkan sebagai ajang unjuk karya serta apresiasi bagi pelajar, mahasiswa, dan seniman,” ujarnya.

Pelaksanaan Samsara Exhibition Vol. 1 menunjukkan bahwa proses pembelajaran mahasiswa dapat berlangsung di luar lingkungan kampus dan memberikan manfaat langsung bagi masyarakat. Pasar Setono Betek tidak hanya menjadi tempat berlangsungnya pameran, tetapi juga menjadi ruang pertemuan berbagai gagasan, pengalaman, dan latar belakang kreatif.
Melalui kegiatan ini, DKV Udinus Kediri berupaya memperkuat hubungan antara pendidikan, praktik desain, dan kehidupan masyarakat. Samsara Exhibition Vol. 1 menjadi langkah awal untuk membangun ruang kreatif yang terbuka, kolaboratif, dan dapat terus berkembang pada penyelenggaraan berikutnya.